TUGAS TERSTRUKTUR
|
DOSEN PENGASUH
|
Filsafat Ilmu
|
Prof.
Kamrani Buseri
Dr.
Rusydi, M.Ag
|
EPISTEMOLOGI
PHENOMENOLOGIK DAN IRFANI
Oleh:
IMRON WAHYUDIANSYAH NIM: 1502521470
IDRUS NIM: 1502521472
INSTITU AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI BANJARMASIN
PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Ilmu
pengetahuan dan teknologi yang hingga saat ini menjadi kunci yang paling
mendasar dari kemajuan yang diraih umat manusia, tentunya tidak datang begitu
saja tanpa ada sebuah dinamika atau diskursus ilmiah. Proses untuk mendapatkan
ilmu pengetahuan itulah lazim dikenal dengan istilah epistemologis.
Epistemologi membicarakan sumber ilmu pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh
ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, epistemologis ini menempati posisi yang
sangat strategis, karena ia membicarakan tentang cara untuk mendapatkan
pengetahuan yang benar berupa ilmu pengetahuan.
Renaisans
adalah zaman kelahiran kembali kebudayaan Yunani-Romawi di Eropa pada abad
ke-15 dan ke-16 M. Renaisans merupakan masa peralihan antara abad pertengahan
ke abad modern yang ditandai dengan lahirnya berbagai kreasi baru yang diilhami
oleh kebudayaan Eropa. Zaman ini adalah abad kembalinya ilmu pengetahuan, maka
itu perkembangan ilmu pengetahuan termasuk penelitian ilmiah berkembang sangat
pesat. Semenjak zaman renaisans inilah berkembang berbagai paradigma di bidang
penelitian ilmiah, selanjutnya muncul paham ajaran seperti: Rasionalisme,
Empirisme, Positivisme dan Fenomenologi. Dalam makalah ini fokus membahas
tentang Fenomenologi.
Dalam kajian pemikiran
Islam, paling tidak menggunakan beberapa aliran besar dalam kaitannya dengan
teori pengetahuan (epistemologi). Setidaknya ada tiga model sistem berpikir dalam Islam, yakni bayani,
irfani dan burhani yang masing-masing mempunyai pandangan yang berbeda tentang
pengetahuan.
Seorang filosof dengan
corak berfikir burhani akan menjawab bahwa sumber kebenaran itu dari akal atau
panca indera. Orang yang memiliki corak berfikir bayani akan menjawab bahwa
sumber kebenaran itu dari teks. Sedangkan orang yang memiliki corak berfikir
irfani akan menjawab bahwa sumber kebenaran itu dari wahyu, ilham, wangsit dan
sejenisnya. Dalam makalah ini fokus pembahasannya pada masalah epistemologi
irfani.
untuk powerpoint-nya dapat diunduh disini
BAB II
PEMBAHASAN
A.
EPISTEMOLOGI FENOMENOLOGI
Fenomenologi
terbentuk dari dua kata fenomenon dan logos, fenomenon berarti
sesuatu yang menggejala, yang menampakan diri, sedangkan istilah logos berarti
ilmu. Jadi, fenomenologi berarti ilmu tentang fenomena atau pembahasan tentang
sesuatu yang menampakan diri. Dengan demikian, Semua wilayah fenomena
(realitas) yang menampakkan diri (manusia, gejala sosial-budaya atau
objek-objek lain) dapat dikatakan sebagai objek kajian fenomenologi.[1]
Fenomenologi mencoba menepis semua asumsi yang
mengkontaminasi pengalaman konkret manusia. Ini mengapa fenomenologi disebut
sebagai cara berfilsafat yang radikal. Fenomenologi menekankan upaya menggapai
“hal itu sendiri” lepas dari segala presuposisi. Langkah pertamanya
adalah menghindari semua konstruksi, asumsi yang dipasang sebelum dan sekaligus
mengarahkan pengalaman. Tak peduli apakah konstruksi filsafat, sains, agama,
dan kebudayaan, semuanya harus dihindari sebisa mungkin. Semua penjelasan tidak
boleh dipaksakan sebelum pengalaman menjelaskannya sendiri dari dan dalam
pengalaman itu sendiri.[2]
1.
Fenomenologi Edmund Husserl
Edmund Husserl
lahir di kota kecil proznitz daerah Moravia yang waktu itu di bawah kekaisaran
Austria-hongaria dan sejak perang dunia I masuk wilayah Cekoslowakia. Husserl
berasal dari golongan Yahudi dan pada usia 27 tahun masuk Protestan karena
pengaruh temannya yakni G. Alberch. Husserl belajar matematika, filsafat dan
astronomi di universitas Leipzig, Berlin, dan Wina. Minat filsafat tumbuh
ketika Husserl mengikuti kuliah-kuliah Franz Brentano pada tahun 1884-1886.
Saat itu Brentano merupakan filsuf yang paling berpengaruh di universitas
tembat Husserl belajar dan Brentano dalam pemikirannya mengupayakan
menggabungkan pemikiran skolastik dengan empirisme. Kelak pengaruh pemikiran
Brentano pada Husserl terlihat pada konsep intensionalitas yang menjadi salah
satu pemikiran penting dari Husserl.
Husserl meraih
gelar doktor filsafat dengan disertasi mengenai filsafat matematik. Husserl
kemudian menjadi dosen privat di Universitas Halle dari tahun 1887-1901.Tahun
1901 Husserl diangakat menjadi professor di Gottingen (1901-1916) dan waktu
inilah pemikirannya tentang fenomenologi mencapai kematangan. Setelah tahun
1916, Husserl memenuhi undangan menjadi professor di Universitas Freiburg im
Breisgau. Pemikiran Husserl (khususnya fenomenologi) melalui tulisan-tulisannya
telah mempengaruhi filsafat abad ke-20 dengan sangat mendalam.[3]
Tulisan-tulisannya
yang dibukukan antara lain:
·
Logishe Untursuchungen (Penelitian
tentang Logika), terdiri dari dua jilid (1900-1901).
·
Ideen Zu Einer Reinen Phanomenologie und Phanomenologischen
Philosophie (gagasan-gagasan tentang
fenomenologi murni dan filsafat fenomenologi) (1913). Buku ini menempatkan
Husserl sebagai filsuf yang mendapatkan pengakuan internasional.
·
Die Krisis Der Europaischen Wissenschaften und Die Transebdentale
Phenomenologie (Krisis dalam
Ilmu-Ilmu Pengetahuan di Eropa dan Fenomenologi Transendental) (1936).
Tulisannya ini sebagian terbit setelah ia meninggal.[4]
Dalam fenomenologi Husserl, ada
beberapa istilah penting yang perlu dipahami. Diantara istilah tersebut seperti
Epoche, Reduksi, Intensionalitas, dan Lebenswelt.
a.
Epoche
Epoche adalah salah satu konsep penting dalam fenomenologi Husserl. Namun
sebelum membahas apa itu Epoche tersebut, penulis akan memaparkan
terlebih dahulu tentang metode fenomenologis.
Spielberg
mengemukakan beberapa langkah metode fenomenologis. Pertama, mengintuisi;
kedua, menganalisis; ketiga, menjabarkan.“Mengintuisi” maksudnya adalah
mengonsentrasikan atau merenungkan secara penuh (intens) fenomena. Sementara
itu, “Menganalisis” maksudnya adalah mencari atau menemukan unsur-unsur atau
bagian-bagian pokok dari fenomena. Dengan kata lain, ini juga berarti menemukan
hubungan antara bagian-bagian atau unsur-unsur yang terdapat dalam fenomena
tersebut. Sedangkan “Menjabarkan” maksudnya adalah menguraikan fenomena yang
telah diintuisi dan dianalisis itu (agar fenomena tersebut dapat dipahami oleh
orang lain).
Dari sinilah
akan dibahas mengenai Epoche tersebut. Hal utama yang menunjang
keberhasilan metode fenomenologis tersebut adalah ketika seseorang (peneliti,
ilmuwan, dan lain sebagainya) mampu membebaskan dirinya dari praduga-praduga
atau penilaian-penilaian atau pengandaian-pengandaian. Dari hal tersebut dapat
dihasilkan keyakinan-keyakinan, stigma-stigma, stereotipe-stereotipe,
teori-teori, atau langgam berpikir yang sudah menjadi kebiasaan. Hal-hal
semacam itu oleh Husserl, mesti disimpan atau diletakkan didalam tanda kurung [
( ) ]. Maksudnya disimpan atau diletakkan didalam tanda kurung bukan berarti
menafikan atau menyingkirkan hal-hal tersebut, melainkan menunda atau
mengosongkan diri dari praduga-praduga, penilaian-penilaian yang disebutkan
tadi.
b.
Reduksi
Seperti yang
dikemukan diatas, Epoche bertujuan agar keterangan yang tampak dalam
fenomena tersebut benar-benar asli atau tidak terlibeh dahulu dicampuri
presupdikatakan, osisi pengamat. Dengan kata lain, dapat dikatakan Epoche merupakan sebuah
“metode penundaan” asumsi-asumsi atas fenomena agar mendapatkan atau memperoleh
hakikat. Dan dalam rangka untuk memunculkan hakikat tersebut, maka Epoche mengisyaratkan
reduksi-reduksi (penyaringan-penyaringan) tertentu. Menurut Husserl ada tiga
reduksi yang dapat digunakan. Ketiga reduksi tersebut, yaitu:
1)
Reduksi fenomenologis, reduksi ini dapat dikatakan sebagai sebuah
sikap menyisihkan (penyaringan) pengalaman pada pengamatan pertama. Maksudnya,
setiap pengamalan pribadi yang bersifat indrawi dan subjektif disaring
(disisihkan, ditunda) terlebih dahulu sehingga pengertian terhadap suatu objek
tidak terdistorsi oleh praduga, penilaian, pra-anggapan, pra-teori,
pra-konsepsi, dan sebagainya.
2)
Reduksi eidetic, reduksi ini dapat dikatakan sebagai sikap untuk
menemukan eidos(esensi) yang tersembunyi. Hasil reduksi ini adalah
pemilihan hakikat yang sebenarnya dan bukan sesuatu yang sifatnya asesoris atau
imajinatif semata.
3)
Reduksi Transendental, fokus dari reduksi transendental ini adalah
terhadap subjek itu sendiri. Dengan demikian, dapat dibilang, reduksi ini
merupakan subjek yang dihayati oleh kesadaran itu sendiri. Perhatikan contoh
berikut, tatkala si A dipukul dengan sadar dia tidak membalas pukulan tersebut,
setelah dia meletakkan “aku” (subjek yang dipukul/subjek empiris) di dalam
tanda kurung. Dia tak membalas pukulan tersebut bukan karena takut, tak berani,
atau lain sebgainya, namun lantaran dia meletakan “subjek empiris” didalam
tanda kurung untuk mencapai subjek sejati: dia berhasil menguasai dirinya dan
menjadi subjek sejati seperti yang dimaksud pada penjelasan tentang reduksi
transendental.
c.
Intensionalitas
Kesadaran
selalu merupakan kesadaran akan sesuatu, demikian yang dikatakan Husserl.
Dengan kata lain, kesadaran selalu terarah pada objek. Kesadaran yang selalu
terarah pada suatu objek, inilah yang dimaksud dengan istilah intensionalitas
itu (intensionalitas berasal dari bahasa latin yakni intendere yang
mengadung arti “mengarahkan kepada” atau “keterarahan”).
Untuk memahami
lebih dekat maksud intensionalitas Husserl ini, penulis terlebih dahulu
memperkenalkan dua istilah yang dikenalkan Husserl yang diambilnya dari bahasa
Yunani yakni Noesis dan Noema. Noesis berarti “tindakan
kesadaran”. Untuk sekadar contoh, memikirkan, memandang atau membayangkan
adalah beberapa contoh dari Noesis. Sedangkan Noema berarti objek
kesadaran. Objek kesadaran itu dapat berbentuk sesuatu yang bersifat fisikal
maupun mental. Sementara itu, antara Noesis dan Noemamemiliki
hubungan yang bersifat korelatif. Dengan kata lain, kita bisa
mengatakan,”tindakan kesadaran memandang” (Noesis) senantiasa mengarah
pada objek pandangan (Noema). Disinilah terlihat bahwa tindakan
kesadaran selalu mengarah kepada objek kesadaran.
d.
Lebenwelt
Lebenwelt
adalah dunia sebagaimana kita atau saya hayati (dunia-pengamalan/dunia yang
dihayati/dunia sehari-hari). Lebenwelt itu adalah dunia yang dihayati itu
bukanlah yang mengacu kepada dunia nyata yang sudah dikategorikan oleh
kategori-kategori filosofis atau ilmiah seperti umpamannya yang terdapat pada
pandangan idealisme maupun realisme. Idealisme memandang bahwa dunia nyata
adalah kesadaran subjek sendiri atau dengan kata lain dunia subjek adalah dunia
yang dipikirkan oleh subjek, atau juga pandangan realisme yang menyatakan,
suatu dunia nyata adalah dunia yang berada luar subjek yang mengetahui atau
subjek hanya menerima rangsangan dari luar secar pasif. Dengan sebagaimana
dunia yang dipandang oleh idealisme atau realisme tersebut. Lebenwelt lebih
mengacu kepada dunia yang belum ditafsirkan atau dikategorikan baik oleh ilmu
pengetahuan maupun filsafat. Dengan kata lainLebenwelt adalah dunia yang
disadari secara pra-filosofis, pra-ilmiah dan pra-reflektif.[5]
2. Fenomenologi Max Scheler
Max Scheler adalah
filsuf yang terkenal dari aliran fenomenologi Husserl. Dia dilahirkan di
Munchen tahun 1874, mendapat gelar doctor pada tahun 1897 dibawah pimpinan
filsuf Rudolf Eucken. Sesudah menjadi tersohor karena karangan-karangannya,
maka pada tahun 1928 dia dipanggil ke Frankrut a.M untuk menjadi guru besar.
Akan tetapi sebelum mulai tugasnya, dia sudah meninggal dunia, demikianlah
secara singkat riwayat hidup Max Scheler.
Scheler juga
menggunakan metode Husserl dan tidak berusaha untuk menganalisa dan menerangkan
lebih jauh tentang suatu obyek dan gejala-gejalanya. Bagi Scheler, fenomenologi
merupakan “jalan keluar” ketidakpuasannya atas logisisme-transendentalis
Immanuel Kant dan Psikologisme Empiris.
Max Scheler
berpikir dengan seluruh hati dan jiwanya. Orang seperti Scheler sebetulnya
niscaya hanya bisa berpikir secara fenomenologi. Artinya bagi manusia dengan
tabi’at semacam itu, cara berpikir yang sesuai ialah terjun dan menenggelamkan
diri dalam pengalaman yang kongkrit. Bagi Scheler, yang terutama bukanlah
pikiran, yang terutama ialah perbuatan. Berbuat, sekali lagi berbuat, mengalami
dan merasakan, itulah dan disitulah letak pengertian menurut Scheler.[6]
Max Scheler
merupakan salah satu orang yang sangat mengagumi pemikiran Husserl tentang
fenomenologi. Pada awalnya ia memang tidak setuju dan menentang seluruh
aliran-aliran falsafah pada waktu itu, tentunya juga dengan metodenya.
Buktinya, dari sekian lama ia memcari metode sendiri dan pada akhirnya ia
menemukan metode yang menurutnya baik. Metode tersebut adalah metode yang
dibawa oleh Husserl yaitu metode fenomenologi.
Scheler
mendasarkan metode fenomenologinya kepada hati dan perasaan. Maksudnya, untuk
menggapai kebenaran hakiki manusia harus berinteraksi dengan objek sebagaimana
teori Husserl. Namun, ketika manusia menghadapi fenomena, yang tampak sebagai
kebenaran akan mejadi sesuatu yang tampak pada hati dan perasaan. Mungkin
Scheler tergila-gila dengan cinta atau terjerat virus-virus cinta. sehingga
dalam menghadapi fenomena ia menghadapinya dengan cinta.
Selain itu Scheler
menambahkan sesuatu di metode fenomenologi Husserl. Inilah diantara yang
menjadi ciri has metode Scheler. Scheler mengatakan manusia harus menahan
segala sesuatu atau pengakuan dalam menghadapi realita. Manusia harus
melepaskan diri dari dari kecendrungan ia atau tidak, begini atau begitu.
Sehingga yang tersisa hanyalah realitas dari fenomen itu sendiri.
Selanjutnya, tidak
hanya melepaskan dari apa yang telah dijabarkan di atas. Manusia juga harus
melepaskan dirinya sendiri dari diri sendiri dan ikatan yang bersifat
kegemaran, kesenangan dan terutama dari belenggu hidup yang rendah. Dalam hal
ini Scheler tampak sebagai orang yang bijak sana. Karena ia menyarankan untuk
melakukan sesuatu yang terpuji sepert jangan sombong, rendah hati dan lain
sebagainya.[7]
B.
EPISTEMOLOGI IRFANI
1.
Pengertian Irfani
Irfan dari kata dasar bahasa Arab
‘arafa semakna dengan makrifat, berarti
pengetahuan. Tetapi ia berbeda dengan ilmu (`ilm). Irfan atau
makrifat berkaitan dengan pengetahuan
yang diperoleh secara langsung
lewat pengalaman (experience), sedang
ilmu menunjuk pada
pengetahuan yang diperoleh
lewat transformasi (naql)
atau rasionalitas (aql). Karena itu, secara terminologis, irfan bisa diartikan sebagai pengungkapan atas pengetahuan yang
diperoleh lewat penyinaran
hakekat oleh Tuhan kepada hamba-Nya (kasyf) setelah adanya olah ruhani (riyadlah) yang
dilakukan atas dasar
cinta (love). Kebalikan
dari epistemologi bayani, sasaran
bidik irfani adalah aspek esoterik syareat, apa yang ada dibalik teks.[8]
Kata 'Irfan muncul dari para sufi muslim yang menunjuk
pada suatu bentuk pengetahuan yang tinggi, terhujam dalam hati dalam
bentuk ilham. Ilham di sini bukan dalam pengertian
"ilham" kenabian, tetapi merupakan intuisi seketika yang biasanya
ditimbulkan oleh praktik-praktik ruhani. Ilham ini datang dari pusat wujud
manusia yang berada di luar batas waktu atau dari "malaikat". Dengan kata lain, ilham
itu berasal dari pancaran akal universal yang menghubungkan manusia dengan
Tuhan.[9]
Menurut Muthahari, irfan terdiri atas dua aspek yaitu:
1.
Aspek Praktis
Aspek praktis adalah bagian yang mendiskusikan hubungan antara
manusia dengan alam dan hubungan antara manusia dengan Tuhan. Misalnya orang
yang ingin mengenal Tuhan harus menempuh perjalanan spiritual lewat
tahapan-tahapan (maqamat) dan kondisi-kondisi batin (hal) tertentu.
2.
Aspek Teoritis
Aspek teoritis mendiskusikan hakikat semesta, manusia dan Tuhan
sehingga irfan teoritis mempunyai kesamaan dengan filsafat yang juga
mendiskudikan tentang hakikat semesta[10].
Epistemologi irfan merupakan
penalaran berdasarkan intuisi. Intusi adalah salah satu cara untuk
mencapai kebenaran. Berbeda dengan nalar yang menekankan pemikiran manusia
sebagai cara untuk sampai kepada kebenaran. Intuisi tidak menggunakan nalar
melainkan melalui aprehensi langsung. Dengan kata lain, sesuatu harus dapat
dirasakan guna dapat dikategorikan sebagai kebenaran.[11]
Para sufi merupakan kelompok cendekiawan yang terkenal dengan
penekanan mereka terhadap intuisi. Dalam bahasa Arab, intuisi bisa disebut
dengan kata wijdan dan ia
difasilitasi oleh dzawq yang arti
literalnya adalah “rasa”. Dzawq adalah sebuah cita rasa yang batiniah yang
halus, yang dimiliki oleh sebagian orang seperti halnya manusia dalam
mengapresiasi syair. Tidak semua orang dapat mengapresiasi keindahan kata-kata
yang terangkai dalam syair. Hanya mereka yang mempunyai dzawq yang dapat
menulis ataupun mengapresiasi syair. Dalam menyerang Mutakallin rasionalis, Imam
Al-Ghazali menekankan bahwa spekulasi teologis tidak dapat membawa seseorang
kepada pengertian Tuhan yang benar. Tuhan sebagai sesuatu yang transenden
dengan sendirinya tidak dapat digapai oleh pemikiran manusia.[12]
Posisi intuisi lebih tinggi daripada posisi akal yang telah
terasah. Jika akal yang kuat mengizinkan kita untuk melihat realitas dibalik
realitas material dan sensibel, maka dzawq dapat merasakannya secara langsung. Karena
apa yang kita rasakan secara langsung akan lebih kuat posisi epistemologisnya
daripada apa-apa yang hanya kita lihat. Seseorang yang telah mencapai posisi
kewalian yang tertinggi adalah mereka yang mempunyai akal yang kuat dzawq yang
jitu, sehingga mereka dapat mencapai derajat haqq al-yaqiin. Seseorang yang hanya mengandalkan akalnya saja,
maka posisi tertinggi yang dapat dicapainya hanyalah ‘ayn al-yaqiin. Dengan demikian, seseorang yang mempunyai kedua
sayap ini, baik akal maupun dzawq akan dapat mencapai tingkat pemahaman yang
lebih tinggi dan dapat mengalami pengalaman-pengalaman spiritual yang akan
memferifikasi keimanannya.[13]
Imam Al-Ghazali menulis bahwa kebenaran sebagai monopoli Tuhan
adalah sesuatu yang hanya diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.
Kebenaran itu turun dari hadirat Allah melalui wahyu yang tiba pada diri Rasul.
Oleh karena itu, cahaya kenabian adalah cahaya yang paling terang. Tetapi
dengan ketiadaan wahyu sepeninggal Nabi Muhammad Saw, Imam Al-Ghazali
menyatakan bahwa kebenaran wahyu masih dapat kita gapai melalui Roh Suci
Kenabian (Ruh Qudsiyy al-Nabawiyy). Caranya, menurut beliau adalah melalui
tasawuf yang bertujuan melatih pengalaman intuitif kita. Dari sini jelas, bahwa
menurut Imam Al-Ghazali kebenaran yang terkandung dalam wahyu hanya dapat
diakses melalui pengalaman intuitif, dan pengalaman ini dapat dilatih melalui
disiplin tasawuf.[14]
2.
Sumber Irfan
Para ahli berbeda pendapat
tentang asal sumber
irfan:
1. Menganggap
bahwa irfan Islam berasal dari sumber Persia dan Majusi, seperti yang
disampaikan Dozy dan Thoulk. Alasannya, sejumlah besar orang-orang Majusi di
Iran utara tetap memeluk agama mereka setelah penaklukan Islam dan banyak tokoh
sufi yang berasal dari daerah Khurasan.
2. Irfan
berasal dari sumber-sumber Kristen, seperti dikatakan Von Kramer, Ignaz
Goldziher, Nicholson, Asin Palacios dan O’lery. Alasannya, karena adanya
interaksi antara orang-orang Arab dan kaum Nasrani pada masa jahiliyah maupun
zaman Islam.
3. Irfan
ditimba dari India, seperti pendapat Horten dan Hartman.
4. Irfan berasal
dari sumber-sumber Yunani,
khususnya neo- platonisme dan
Hermes, seperti disampaikan O’leary dan Nicholson. Alasannya, ‘Theologi
Aristoteles’ yang merupakan paduan antara sistem Porphiry dan Proclus telah dikenal baik dalam filsafat Islam.[15]
Pendapat tersebut juga tidak
dapat dipastikan kebenarannya, karena tidak mempunyai dasar pijakan yang kokoh.
Pemikir berikutnya berpendapat bahwa irfani adalah berasal dari sumber Islam. tetapi dalam perkembangannya kemudian
dipengaruhi oleh faktor luar, Yunani, Kresten, Hindu atau yang lain.[16]
3.
Perkembangan Irfani
Dalam perkembangannya, irfan bisa dibagi dalam enam
fase, yaitu:
1.
Fase pembibitan,
terjadi pada abad pertama hijriyah. Pada masa ini, apa yang disebut irfan baru
ada dalam bentuk laku zuhud (askestisme). Kenyataan ini, menurut Thabathabai,
karena para tokoh sufisme yang dikenal sebagai orang-orang suci tidak berbicara
tentang irfan secara terbuka, meski mengakui bahwa mereka dididik dalam spiritualisme
oleh Rasul atau para sahabat. Karakter askestisme periode ini adalah (1)
berdasarkan ajaran al-Qur`an dan sunnah, yakni menjauhi hal-hal duniawi demi
meraih pahala dan menjaga diri dari neraka. (2) bersifat praktis, tanpa ada
perhatian untuk menyusun teori atas praktek-praktek yang dilakukan. (3)
Motivasi zuhudnya adalah rasa takut, yakni rasa takut yang muncul dari landasan
amal keagamaan secara sungguh-sungguh.
2.
Fase kelahiran,
terjadi pada abad kedua hijrah. Pada
masa ini, beberapa tokoh sufisme
mulai berbicara terbuka
tentang irfan. Karya-karya tentang irfan juga mulai ditulis,
diawali Ri`ayat Huquq Allah karya Hasan Basri (642-728 M) yang dianggap sebagai
tulisan pertama tentang irfan, kemudian diikuti Mishbah al-Syari`ah karya
Fudlail ibn Iyadl (w. 803 M). Laku askestisme juga berubah. Jika awalnya
dilakukan atas dasar takut dan mengharap pahala, dalam periode ini, di tangan
Rabiah Adawiyah (w. 801 M), zuhud dilakukan atas dasar cinta kepada Tuhan,
bebas dari rasa takut atau harapan mendapat pahala.
3.
Fase pertumbuhan,
terjadi abad 3-4 hijrah. Sejak awal abad ke-3 H, para tokoh sufisme mulai menaruh perhatian
terhadap hal-hal yang berkaitan dengan
jiwa dan tingkah laku, sehingga sufisme menjadi ilmu moral keagamaan
(akhlaq). Pembahasan masalah
ini, lebih lanjut,
mendorong mereka untuk
membahas soal pengetahuan intuitif berikut sarana dan metodenya, tentang Dzat
Tuhan dan hubungan-Nya dengan manusia atau hubungan manusia dengan-Nya, yang
kemudian disusul perbincangan tentang fana’ (ecstasy), khususnya oleh Abu Yazid
Bustami (w.877 M) dan hulul (imanensi Tuhan dalam manusia) oleh al- Hallaj
(858-913 M). Dari
perbincangan-perbincangan
seperti ini kemudian
tumbuh pengetahuan irfan, seperti al-Lum`ah fi al-Tashawuf yang ditulis Abu Nashr Sarraj al-Thusi ( w.988 M) dan Quthb
al-Qulub karya Abu Thalib al-Makki (w.996
M).
Bersamaan itu, sejumlah tokoh
sufisme, seperti Sirri al-Saqathi (w. 867 M), Abu Said al Kharraz (w.895 M), dan Junaid al-Baghdadi (w.910 M), juga mempunyai banyak
murid. Dan inilah cikal
bakal bagi terbentuknya
tarikat-tarikat sufi dalam Islam, di mana sang murid menempuh pelajaran
dasarnya secara formal dalam suatu majlis.
4.
Fase puncak,
terjadi pada abad ke-5 H. Pada periode ini irfan mencapai masa gemilang. Banyak
pribadi besar yang lahir dan menulis tentang irfan, antara lain,
Said Abu Khair (w.1048 M) yang menulis Ruba`iyat, Ibn Utsman
al-Hujwiri (w.1077 M) menulis Kasyf
al-Mahjub, dan Abdullah alAnshari (w. 1088 M) menulis Manazil al-Sa`irin,
salah satu buku
terpenting dalam irfan. Puncaknya al-Imam Al-Ghazali (w.1111 M) menulis Ihya’
Ulum al Din yang menyelaraskan tasawuf
dan fiqh (irfan dan bayani). Menurut
Nicholson dan TJ. de Boer, ditangan al-Imam Al-Ghazali, irfan menjadi jalan
yang jelas karakternya untuk mencapai pengenalan serta kefanaan dalam tauhid
dan kebahagiaan.
5. Fase spesifikasi, terjadi abad ke- 6 & 7 H. Berkat
pengaruh pribadi al-Ghazli yang besar,
irfan menjadi semakin dikenal dan
berkembang dalam masyarakat Islam. Ini memberi peluang bagi tokoh sufis untuk
mengembangkan tarikat-tarikat dalam rangka mendidik murid mereka, seperti yang
dilakukan A. Rifai (w. 1174 M), Abd al-Qadir al-Jailani (w. 1253 M), Abu al-Syadlili
(w. 1258 M), Abu Abbas al-Mursi (w.1287 M), dan Ibn Athaillah al-Iskandari
(w.1309 M). Namun, bersamaan dengan itu, disisi lain, muncul pula tokoh-tokoh
yang berusaha memadukan irfan dengan
filsafat, khususnya neo-platonisme, seperti
yang dilakukan Suhrawardi (w.1191 M) lewat karyanya yang terkenal,
Hikmah al- Isyraq, Ibn Arabi (w.1240 M), Umar ibn Faridl (w.1234 M), dan Ibn
Sab`in al- Mursi (w.1270 M). Mereka banyak memiliki teori mendalam tentang
jiwa, moral, pengetahuan, wujud dan
lainnya yang sangat bernilai bagi kajian irfan dan filsafat berikutnya. Bahkan, jika tokoh sebelumnya
hanya menulis tentang bagaimana persiapan menerima pengetahuan, menurut Mehdi
H. Yazdi, Suhrawardi dan Ibn Arabi
diatas justru yang mempelopori penulisan pengalaman mistik yang disebut pengetahuan irfan.
Dengan demikian, pada fase ini,
secara epistemologis, irfan telah terpecah (terspesifikasi) dalam dua aliran.
(1) Irfan sunni yang cenderung pada perilaku praktis (etika) dalam bentuk
tarikat-tarikat, (2) irfan teoritis yang didominasi pemikiran filsafat.
Disamping itu, dalam pandangan Jabiri, ditambah
aliran kebatinan yang
didominasi aspek mistik.
Meski demikian, menurut Muthahari,
irfan praktis tetap tidak sama dengan etika dan irfan teoris berbeda dengan filsafat.
Secara garis besar bisa digambarkan dalam bagan dibawah.
6. Fase kemunduran, terjadi sejak abad ke-8 H. Sejak
abad itu, irfan tidak mengalami perkembangan berarti, bahkan justru mengalami
kemunduran. Para tokohnya lebih cenderung pada pemberian komentar dan ikhtisar
atas karya- karya terdahulu, dan
lebih menekankan bentuk
ritus dan formalisme,
yang terkadang mendorong mereka menyimpang dari susbtansi ajarannya
sendiri. Para pengikut memang semakin bertambah, tetapi disana tidak muncul
pribadi unggul yang mencapai kedudukan
ruhaniyah cukup terhormat
seperti pada pendahulunya.[17]
4. Metode Irfani
Pengetahuan
irfan tidak didasarkan atas teks seperti bayani, juga tidak atas rasio seperti
burhani, tetapi pada kasyf, tersingkapnya rahasia-rahasia realitas oleh Tuhan.
Karena itu, pengetahuan irfani tidak diperoleh berdasarkan analisa teks atau
keruntutan logika, tetapi dengan olah ruhani, dimana dengan kesucian hati,
Tuhan akan melimpahkan pengetahuan langsung kepadanya. Dari situ kemudian
dikonsep atau masuk dalam pikiran sebelum dikemukakan kepada oang lain. Dengan
demikian, sebagaimana disampaikan Suhrawardi, secara metodologis, pengetahuan ruhani setidaknya
diperoleh melalui tiga tahapan, (1) persiapan, (2) penerimaan, (3) pengungkapan,
baik dengan lisan atau tulisan.
Tahap
pertama, persiapan. Untuk bisa menerima limpahan pengetahuan (kasyf), seseorang yang biasanya disebut salik
(penempuh jalan spiritual) harus menyelesaikan jenjang-jenjang kehidupan
spiritual. Para tokoh berbeda pendapat tentang
jumlah jenjang yang
harus dilalui. Namun, setidaknya,
ada tujuh tahapan yang harus dijalani, yang semua ini berangkat dari tingkatan
yang paling dasar menuju pada tingkatan puncak dimana saat itu qalbu (hati)
telah menjadi netral dan jernih sehingga siap menerima limpahan pengetahuan.
Antara lain, taubat, wara`, zuhud, faqir dan seterusnya.[18]
Kedua,
tahap penerimaan. Jika telah mencapai tingkat tertentu dalam jenjang spiritual,
seseorang akan mendapatkan limpahan pengetahuan langsung dari Tuhan secara
illuminatif atau noetic. Dalam kajian filsafat Mehdi Yazdi, pada tahap ini,
seseorang akan mendapatkan realitas kesadaran diri yang demikian mutlak
(kasyf), sehingga dengan kesadaran itu ia mampu melihat realitas dirinya
sendiri (musyahadah) sebagai objek yang diketahui. Namun, realitas kesadaran
dan realitas yang disadari tersebut,
karena bukan objek eksternal, keduanya bukan sesuatu yang berbeda tetapi
merupakan eksistensi yang sama, sehingga objek yang diketahui tidak lain adalah
kesadaran yang mengetahui itu sendiri, begitu pula sebaliknya (ittihad).
Sedemikian rupa, sehingga dalam perspektif epistemologis, pengetahuan irfani
ini tidak diperoleh melalui representasi atau data-data indera apapun, bahkan
objek eksternal sama sekali tidak berfungsi dalam pembentukan gagasan umum pengetahuan
ini. Pengetahuan ini
justru terbentuk melalui univikasi eksistensial
yang oleh Mehdi
Yazdi disebut ‘ilmu huduri’
atau pengetahuan swaobjek
(self-object-knowledge), atau jika dalam teori permainan bahasa
(language game) Wittgenstein, pengetahuan irfani ini tidak lain adalah bahasa
‘wujud’ itu sendiri.
Ketiga,
pengungkapan. Ini merupakan
tahap terakhir dari
proses pencapaian pengetahuan irfani, dimana pengalaman mistik
diinterpretasikan dan diungkapkan kepada orang lain, lewat ucapan atau tulisan.
Namun demikian, karena pengetahuan irfani bukan masuk tatanan konsepsi dan
representasi tetapi terkait dengan kesatuan simpleks kehadiran Tuhan dalam diri
dan kehadiran diri dalam Tuhan, sehingga
tidak bisa dikomunikasikan, maka
tidak semua pengalaman ini bisa
diungkapkan. Beberapa pengkaji masalah irfan atau mistik membagi pengetahuan
ini dalam beberapa tingkat,
a) pengetahuan
tak terkatakan,
b) pengetahuan
irfan atau mistisisme,
c) pengetahuan
metasisisme yang terbagi dalam dua bagian;
1) oleh
orang ketiga tetapi masih dalam satu tradisi dengan yang bersangkutan (orang
Islam menjelaskan pengalaman mistik orang Islam yang lain).
2) oleh
orang ketiga dan dari tradisi yang berbeda (orang Islam menjadi pengalaman
mistik dari tokoh mistik non-muslim).[19]
5.
Verifikasi
Sesuai
dengan sasaran bidik irfan yang esoterik, isu sentral irfan adalah zahir &
batin, bukan sebagai konsep yang berlawanan tetapi sebagai pasangan. Menurut
Muhasibi (w. 857 M), al-Imam Al-Ghazali (w. 1111 M), Ibn Arabi (w. 1240 M),
juga para sufis yang lain, teks keagamaan (al-Qur`an dan hadits) tidak hanya mengandung
apa yang tersurat (zahir) tetapi juga apa yang tersirat (batin). Aspek zahir
teks adalah bacaannya (tilawah) sedang aspek batinnya adalah takwilnya. Jika
dianalogikan dengan bayani, konsep zahir-batin ini tidak berbeda dengan
lafat-makna. Bedanya, dalam epistemologi bayani, seseorang berangkat dari lafat
menuju makna; sedang dalam irfani, seseorang
justru berangkat dari
makna menuju lafat, dari batin menuju zahir, atau dalam bahasa al-Imam
Al-Ghazali, makna sebagai ashl, sedang lafat mengikuti makna (sebagai furu`).
Pendapat
zahir-batin diatas didasarkan,
pertama, pada Al-Qur`an,
QS. Luqman:20, Al An`am:120 dan khususnya QS. al-Hadid: 3, yang
sekaligus digunakan sebagai dasar pijakan metafisisnya. Kedua, hadis Rasul,
‘Tidak ada satu ayatpun dalam alQur`an kecuali disana mengandung aspek zahir
dan batin, dan setiap huruf mempunyai
had (batas) dan
matla (tempat terbit). Ketiga,
pernyataan Imam Ali ibn Abi Thalib (w. 660 M). Menurut Ali ra, al-Qur`an
mengandung empat dimensi, zahir, batin, had dan matla`. Aspek zahir al-Qur`an
adalah tilawah, aspek batinnya adalah pemahaman, aspek had-nya ketentuan halal
dan haram, dan matla`nya adalah apa yang dikehendaki Tuhan atas hamba-Nya.[20]
Pengetahuan
Irfan bukan masuk tatanan konsepsi dan representasi, melainkan terkait dengan
kesatuan simpleks kehadiran Tuhan dalam diri dan kehadiran diri dalam Tuhan,
maka tidak semua pengalaman dan pengetahuan begitu jelas gamblang tersebut
dapat diungkapkan. Karena itu beberapa pengkaji masalah Irfan membagi
pengetahuan ini dalam dua tingkatan, yaitu pengetahuan yang tak terkatakan dan
pengetahuan yang terkatakan. Pengetahuan yang terkatakan dibagi menjadi tiga
bagian yaitu:
1. Pengetahuan
Irfan yang disampaikan oleh pelaku itu sendiri.
2. Pengetahuan
Irfan yang disampaikan oleh orang ketiga tetapi masih dalam satu tradisi dengan
yang bersangkutan (orang Islam menjelaskannya kepada orang Islam yang lain)
3. Pengetahuan
Irfan yang disampaikan oleh orang ketiga tetapi dari tradisi yang berbeda
(orang Islam menjelaskannya kepada Non Muslim dan sebaliknya).[21]
Persoalannya,
bagaimana makna atau dimensi batin yang diperoleh dari kasyf tersebut
diungkapkan? Menurut Jabiri,
makna batin ini,
pertama, diungkapkan dengan cara apa yang disebut sebagai I`tibar atau
qiyas irfani. Yakni analogi makna batin yang ditangkap dalam kasyf kepada makna zahir yang ada dalam teks.
Sebagai contoh, qiyas yang dilakukan kaum Syiah yang menyakini keunggulan
keluarga Imam Ali ra. atas QS. Al-Rahman, 19-22. “Dia membiarkan dua
lautan mengalir dan
bertemu; diantara keduanya
ada batas yang
tidak terlampaui dan dari keduanya keluar mutiara dan marjan”.
Contoh
lain adalah qiyas yang
dilakukan al-Qusyairi atas
ayat yang sama. Menurutnya, dalam hati ini ada dua
lautan, yakni khauf (takut)
dan raja’ (harapan), dan dari sana keluar mutiara dan
marjan, yakni ahwal al-shufiyah dan lathaif al-mutawaliyah. Diantara keduanya ada batas
yang tak terlampaui, yakni pengawan
Tuhan atas ini dan itu. Artinya, konsep sufisme tentang khauf dan raja’ dinisbatkan pada kata ‘bahrain’ (dua lautan),
sedang ahwal dan lathaif dinisbatkan
pada mutiara dan marjan.
Dengan
demikian, qiyas irfani ini tidak sama dengan qiyas bayani atau silogisme. Qiyas
irfani disini berusaha menyesuaikan konsep yang telah ada atau pengetahuan yang
diperoleh lewat kasyf dengan teks, qiyas al-ghaib `ala al-syahid.
Dengan
kata lain, seperti dikatakan al-Imam Al-Ghazali diatas, zahir teks dijadikan
furu’ (cabang) sedang konsep atau pengetahuan kasyf sebagai ashl (pokok).
Karena itu, qiyas irfani atau I`tibar tidak memerlukan persyaratan illat atau
pertalian antara lafat dan makna (qarinah lafdziyah `an ma`nawiyah) sebagaimana
yang ada dalam qiyas bayani, tetapi hanya berpedoman pada isyarat (petunjuk
batin). [22]
Metode
analogi seperti diatas, menurut al-Jabiri, juga
dikenal dalam pemikiran di Barat, yakni dalam aliran
filsafat esoterik, yang
disebut analogi intuitif. Namun, dalam analogi filsafat
esoterik, perbandingan bukan dialakukan atas dasar kesamaan tetapi karena
adanya keterpengaruhan. Bagi al-Jabiri, dengan tidak adanya kesetaraan atau
kesamaan diantara dua hal yang dianalogikan berarti analogi (qiyas) tersebut
telah jatuh. Karena itu, dan ini merupakan kesalahan al-Jabiri, ia menggunakan
metode analogi Barat tersebut untuk menganalisa irfani Islam, sehingga menganggap
bahwa pengetahuan irfani yang dibangun diantas dasar qiyas
bukan sesuatu yang luar biasa
tetapi hanya kreatifitas
akal yang didasarkan atas
imajinasi.
Padahal,
irfani Islam sama sekali berbeda dengan mistik di Barat, meski dibeberapa bagian
ada kesamaan. Irfani lebih berkaitan dengan kebersihan jiwa, rasa dan kayakinan
hati, sementara mistik Barat kurang berkaitan dengan semua itu dan lebih
positifistik. Karena itu, menggunakan alat ukur mistik Barat untuk menganalisa
irfan Islam, sesungguhnya, tidak berbeda dengan mengukur rasa kepedasan cabe
dengan melihat warna kulitnya. Tidak akan mencapai hakekat yang sebenarnya.
Kedua,
pengetahuan kasyf diungkapkan lewat apa yang disebut dengan syathahat. Namun,
berbeda dengan qiyas irfani yang dijelaskan secara sadar dan dikaitkan dengan
teks, syathahat ini sama sekali tidak mengikuti aturan-aturan tersebut. Syathahat
lebih merupakan ungkapan lisan tentang perasaan (al-wijdan) karena limpahan
pengetahuan langsung dari sumbernya dan dibarengi dengan pengakuan, seperti ungkapan
‘Maha Besar Aku’ dari Abu Yazid Bustami (w. 877 M), atau ‘Ana al-Haqq’ (Aku adalah
Tuhan) dari al-Hallaj (w.913M).
Ungkapan-ungkapan seperti
itu, keluar saat
seseorang mengalami suatu pengalaman intuitif yang sangat mendalam,
sehingga sering tidak sesuai dengan kaidah teologis maupun epistemologis
tertentu; sehingga, karena itu pula, ia sering dihujat dan dinilai menyimpang
dari ajaran Islam yang baku. Meski demikian, secara umum, syathahat
sebenarnya diterima dikalangan
sufisme, meskipun dikalangan
sufisme sunni yang membatasi diri pada aturan syariat, dengan syarat bahwa
syathahat tersebut harus di takwilkan, yakni ungkapannya harus terlebih dahulu
dikembalikan pada makna zahir teks.[23]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Fenomenologi terbentuk dari dua kata fenomenon dan logos,
fenomenon berarti sesuatu yang menggejala, yang menampakan diri,
sedangkan istilah logos berarti ilmu. Jadi, fenomenologi berarti ilmu
tentang fenomena atau pembahasan tentang sesuatu yang menampakan diri.
Menurut
Husserl, fenomena adalah realitas sendiri yang tampak, tidak ada selubung atau
tirai yang memisahkan subyek dengan realitas, karena realitas itu sendiri yang
tampak bagi subyek.
Dalam
fenomenologi Max Scheler, Pendekatan fenomenologi baginya berarti memperhatikan
semua sudut warna pada segala kenyataan. Inti metode Scheler adalah erleben, penghayatan
segar terhadapan pengalaman. Kebenaran bukan hasil pikiran atau
pertimbangan, melainkan harus dicari
dengan membuka diri.
Irfan dari kata dasar bahasa Arab
‘arafa semakna dengan makrifat, berarti
pengetahuan. Tetapi ia berbeda dengan ilmu (`ilm). Irfan atau
makrifat berkaitan dengan pengetahuan
yang diperoleh secara langsung
lewat pengalaman (experience), sedang
ilmu menunjuk pada
pengetahuan yang diperoleh
lewat transformasi (naql)
atau rasionalitas (aql).
Para ahli berbeda pendapat
tentang asal sumber
irfan: Pertama, menganggap bahwa irfan Islam berasal dari sumber Persia
dan Majusi. Kedua, irfan berasal dari sumber-sumber Kristen. Ketiga, irfan
ditimba dari India. Keempat, irfan berasal
dari sumber-sumber Yunani. Dan
ada pula yang berpendapat bahwa irfan bersal dari Islam.
Dalam perkembangannya,
irfan bisa dibagi dalam lima fase, yaitu: Fase pembibitan, Fase kelahiran, Fase
pertumbuhan, Fase puncak, Fase spesifikasi.
Pengetahuan irfan tidak
didasarkan atas teks seperti bayani, juga tidak atas rasio seperti burhani,
tetapi pada kasyf, tersingkapnya rahasia-rahasia realitas oleh Tuhan. Karena
itu, pengetahuan irfani tidak diperoleh berdasarkan analisa teks atau
keruntutan logika, tetapi dengan olah ruhani, dimana dengan kesucian hati,
Tuhan akan melimpahkan pengetahuan langsung kepadanya.
DAFTAR PUSTAKA
Akhyar Yusuf Lubis, Filsafat Ilmu: Klasik Hingga Kontemporer,
(Jakarta: PT Raja Grafindo persada, 2014)
Al-Imam Ghazali. Al-Munqidz min Az-Zhalal; dalam Majmu’ah Rasa il al-Imam
al-Ghazali, vol. VII, diedit oleh Ahmad Syamsuddin (Beirut: Dar al-Kutub
al-‘Ilmiyyah)
Donny Gahral Adian, Pilar-Pilar Filsafat Kontemporer. (Jogjakarta
: Jalasutra, 2002)
Hermeneia, Jurnal
Kajian Islam Interdisipliner Vol. 6, Nomor l, Januari-Juni 2007. Ismail Fajrie
Alatas. Sungai Tak Bermuara (Risalah Konsep Ilmu dalam Islam). (Jakarta: Diwan
Publisher. 2006)
Harry Hamersma, Tokoh-Tokoh
Filsafat Barat Modern, (Jakarta: Gramedia, 1983)
Risieri Frondizi, Pengantar Filsafat Nilai, Cuk
Ananta Wijaya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001)
Soleh Khudori, Filsafat Islam (Dari Klasik Hingga Kontemporer). (Jogjakarta:
Ar-Ruzz Media. 2013).
Soleh khudori, Wacana Baru Filsafat Islam. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2004)
[1]Akhyar
Yusuf Lubis, FILSAFAT ILMU: KLASIK HINGGA KONTEMPORER, (Jakarta: PT Raja
Grafindo persada, 2014), h. 205-206
[6] Diakses dari http://suhaimi-jaya.blogspot.co.id/2012/06/fenomenologi-max-scheler.html, 06 November
2015
[8]Khudori Soleh. Filsafat Islam (Dari Klasik Hingga
Kontemporer). (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. 2013). Hal. 253
[9] Hermeneia, Jurnal
Kajian Islam Interdisipliner Vol. 6, Nomor l, Januari-Juni 2007. Hal 73
[11] Ismail Fajrie Alatas. Sungai Tak Bermuara (Risalah Konsep Ilmu dalam Islam). (Jakarta: Diwan
Publisher. 2006) hal. 163
[12] Al-Imam Ghazali. Al-Munqidz min Az-Zhalal; dalam Majmu’ah
Rasa il al-Imam al-Ghazali, vol. VII, diedit oleh Ahmad Syamsuddin (Beirut: Dar
al-Kutub al-‘Ilmiyyah) hal. 32-33
[13] Ismail Fajrie
Alatas. Op. Cit. hal. 164
[14] Ismail Fajrie Alatas. Op. Cit. hal. 165
[15] Khudori Soleh. Wacana Baru Filsafat Islam.(Yogyakarta:
Pustaka Pelajar. 2004) Hal. 196
[16] Khudori Soleh. Op. Cit. Hal. 198
[19] Khudori Soleh. Wacana Baru...Op. Cit. Hal. 203
[20] Khudori Soleh. Wacana Baru Filsafat Islam.(Yogyakarta:
Pustaka Pelajar. 2004) Hal. 208
[21] Khudori Soleh. Filsafat Islam ...Op. Cit. Hal. 256
[22] Khudori Soleh. Wacana Baru Filsafat Islam. Op. Cit. Hal. 210
[23] Khudori Soleh. Wacana Baru Filsafat Islam. Op. Cit. Hal. 211

Blognya bagus pak...
BalasHapusSemoga bermanfaat
kujungi juga blog uln banathelwa.wordpress.com
BalasHapuskunjungi blog sy jg ya, walau ga sekeren punya pian, belum dipercantik sih....http://ternyataakumakincintailmu.blogspot.co.id/
SANGAT BERMANFAAT..TRUS BERBAGI ILMU YA...
BalasHapus